Minggu, 31 Januari 2016

::: Subhanallah... Sebuah Kisah Indah Keluarga Australia Kembali Pada Islam :::

::: Subhanallah... Sebuah Kisah Indah Keluarga Australia Kembali Pada Islam :::

“Kedua orang tua saya adalah Aussie, mereka bercerai ketika saya masih kecil karena ayah amat kasar. Kami masih memiliki masalah dengan dia. Saya belum melihatnya atau berbicara dengannya dalam 12 tahun terakhir. Mama memiliki empat anak dari dia…”, sister memulai bercerita.

Setelah perceraian, ibunya berteman dengan seorang muslim Lebanon. Kemudian menuju kedekatan hubungan, mereka hidup bagai suami-istri, kebiasaan di Australia. “Ini seperti masa berlatih dan mereka memiliki adik bungsu saya. Mereka selalu on-off , sering bertengkar, namun berbaikan kembali… Lelaki itu katanya banyak berbohong, dan dia berselingkuh. Jadi ibuku ‘putus’ dengan dia lalu melanjutkan hidupnya. Ibuku benar-benar lembut hati”, sambungnya.

Mereka ini tidak tahu banyak tentang Islam. “Kita semua paling tahu adalah Ramadhan dan eid… Namun saya diajarkan untuk menjadi Katolik yang cukup religious. Saya dididik untuk pergi ke studi Alkitab dan segala sesuatu terkait hal itu. Tetapi semakin saya belajar, semakin bingung jadinya.”

Alasan sister terungkap dalam percakapannya yang ramah, “Aku mulai bertanya dan mereka mengatakan Anda hanya harus percaya. Saya berpikir itu tidak cukup bagiku untuk berdiri di atas muka bumi. Setiap saya tanyakan kalimat-kalimat al-kitab yang berbeda-beda, hanya ‘anda harus percaya saja’, Jadi saya meninggalkan catholism…”

“Saya masih percaya ada Tuhan, namun menjadi seorang yang bingung… Saudara bungsu kami dan ayah telah berada di Lebanon selama lebih dari dua tahun, kala itu (ayah kedua) anaknya menikah dan ibunya sakit. Sebelum ia meninggalkan kami semua, ia mengirim sepupunya ke rumah kami. Ia adalah muslim berusia dua puluh tujuh tahun dengan istri dan seorang putri cantik berusia empat tahun. Kami menjadi seperti kakak dan adik, saat yang tepat waktu itu karena saya sedang kebingungan mencari jalan Tuhan….”

Masya Allah!

“Teman terbaik, sepupu ayah itu agamis, saya lega menceritakan segala sesuatu jika ada problema, dia pun berbagi kisah mengenai segala hal dalam drama kehidupan manusia… Tapi sekali lagi, Subhanallah kita tidak berbicara tentang agama. Dia sangat hormat, dia menghargai kami sekeluarga sehingga kami sungguh menyayangi keluarganya pula dan ia mau menyempatkan waktu membantuku merayakan ulang tahun, juga kesibukan keluarga saat Natal…” kenangnya.

“Pada September 2012 kami akan ada pembaptisan, ia datang di pagi hari untuk melihat apakah (kakak beradik) kita memerlukan sesuatu dan untuk memeriksa kami apakah sudah siap, sudah selesai sarapan, dan lainnya, (sebenarnya dia melakukan ini setiap hari)…”

Saudaraku mengomentari satu hal, “Kenapa sih kita harus dibaptis untuk ‘dilindungi’… Apakah Yesus memang mengajarkan hal ini?”

“Pikirku…Kami kakak beradik semua tak ada yang bisa menjawabnya, rasanya segala kejanggalan memang tiada habisnya dalam kehidupan kami yang hampa.” Masa remaja sister kita ini dihiasi dengan pencarian terhadap rabbul ‘izzati.

Subhanallah setiap kali upacara itu, si pembaptis akan menuangkan air di salah satu kepala bayi yang dibaptis, setiap bayi di dalam ruangan akan berteriak. Bahkan orang-orang dalam kerumunan riuh, “Saya pikir itu menyeramkan… Saya tak menerima hal ini! Kita harus ada pengakuan dosa dan kulihat ibuku pernah dipukul dalam acara dengan ‘imam’, lalu kita harus menerima hal itu… Lanjutannya, ‘imam’ mulai merokok dan minum dengan remaja-remaja. Apaan sih ini??? Saya yakin bahwa ‘agama’ bukan begini….”

Hari yang heboh itu ditutup dengan kejutan besar dan menyedihkan. “Ketika kami sampai di rumah, kami diberitahu oleh keluarga ayah bahwa sepupunya itu meninggal dunia….dia yang mendamaikan kami telah meninggal… Allah yerhamo. Ini mencabik hatiku… Tapi kita sekeluarga menjadi benar-benar dekat dengan istri dan putrinya. Istrinya dan saya menjadi diskusi, berbicara tentang agama, dia sangat religius.

Tapi jujur hati ini berkata (bahwa sikap agamis dan busananya) itu membuat segala hal lebih masuk akal. Dia membawa saya, ibu saya dan kakak saya ke istri syekh. Ia menjawab segala keluh dan tanya kami, dan kami Alhamdulillah hijrah kembali pada Islam di malam itu! Kami tak mau menunda, semua kegelisahan dan pertanyaan kami dapat dijawab oleh Islam, kami ngeri membayangkan bahwa kematian bisa datang sekarang juga! Seminggu kemudian saudara laki-lakiku berusia 14 tahun juga hijrah kepada Islam, Alhamdulillah, subhanallah dia sekarang ingin didoakan supaya bisa menjadi (insya Allah) sheikh!  Aameen….”

Sungguh maha benar segala firman-Nya, “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS al-’Ankabuut: 69)

“Wallah… perasaan kalian kalau sudah dapatkan ‘predikat beragama Islam’ ketika  kamu pertama mengatakan syahadat, aaaah itulah yang ada dalam perasaanku, rasanya bertobat, saat itu seperti cahaya telah datang menghampirimu… seperti kamu terbang, bagaikan tubuh kita seringan bulu, saya yakin bahwa apa yang kami lakukan adalah hal yang benar! Kami berbahagia dengan jalan hidup, ada tujuan pasti dalam Islam! Dan Alhamdulillah tidak satupun dari kita yang ‘mengurai-urai cerita lama dalam kekeliruan agama yang dulu’, tak ada satu pun dari kami yang berniat untuk berbalik dari kebenaran sejati ini, Tolong doakan…” ujarnya menutup kisah dengan berbinar.

Allahu Akbar! Semoga keharuan akan kisah keluarga muslim muallaf Aussie ini memercikkan bulir semangat dan inspirasi buat kita semua, sebagai muslimin yang senantiasa bersyukur atas segala nikmat-Nya, Barakallah!(dakwatuna).

Subhanallah..
Betapa indahnya hidayah Islam..

Sumber :
http://bulansabit-kembar.blogspot.com/2014/05/sebuah-kisah-indah-keluarga-australia.html
http://www.dakwatuna.com/2014/04/14/49590/sebuah-kisah-indah-keluarga-australia-kembali-pada-islam/

Inilah Baitul Makmur, Kiblat Para Malaikat di Langit Ketujuh

Inilah Baitul Makmur, Kiblat Para Malaikat di Langit Ketujuh

Saat melaksanakan shalat, Umat Islam dari segala penjuru menghadap ke Ka’bah sebagai arah kiblat.  Bangunan berbentuk kubus ini terletak di jantung Masjidil Haram dan dikelilingi oleh ribuan manusia setiap hari.

Sedikit orang yang tahu, bahwa ternyata tidak hanya satu ka’bah yang ada di alam semesta ini. Berdasarkan Al-Quran dan hadist, ada dua Ka’bah yang dipercaya menjadi rumah Allah. Selain ka’bah yang dibangun di Mekkah, ternyata ada satu lagi Ka’bah yang menjadi arah kiblat  penduduk langit.

Ka’bah tersebut bernama Baitul Makmur dan terletak di langit ketujuh. Layaknya ka’bah di dunia, Baitul Makmur juga dikelilingi oleh malaikat setiap hari untuk melakukan tawaf. Berdasarkan hadist Nabi, letak ka’bah di langit ini sejajar dengan ka’bah yang berada di bumi. Sebagaimana penduduk bumi memakmurkan ka’bah maka penduduk langit juga memakmurkan baitul makmur.

Nabi Muhammad SAW melihat langsung Baitul Makmur ketika melaksanakan Isra Mi’raj untuk menjemput perintah salat. Sesampainya di langit ketujuh, Nabi bersama Malaikat Jibril disambut oleh Nabi Ibrahim AS. Ketika itu sang Rasulullah melihat Baitul Makmur yang dikelilingi ribuan malaikat. Kisah ini diceritakan Nabi yang artinya:

“Lalu aku melihat Baitul Makmur. Akupun bertanya kepada Jibril. “Ini adalah Baitul Makmur, setiap hari, tempat ini dikunjungi 70.000 Malaikat untuk melakukan shalat di sana. Setelah mereka kaluar, mereka tidak akan kembali lagi ke tempat ini.” (HR. Bukhari 3207 & Muslim 162).

Baitul Makmur makmur juga menjadi salah satu tempat yang dijadikan Allah sebagai Sumpah-Nya. Seperti diketahui bahwa makhluk Allah yang menjadi sumpah berarti termasuk makhluk yang mulia. Baitul Makmur dalam Al-Qur’an disebutkan dalam surat At-Thur  yang artinya, “dan demi Baitul Ma’mur, dan atap yang ditinggikan (langit), dan laut yang di dalam tanahnya ada api,” (QS. At-Thur: 4-6).

Baitul Makmur bermula saat Allah SWT hendak menciptakan khalifah di bumi. Saat itu keputusan Allah SWT ini dipertanyakan oleh para Malaikat. Seperti kalam Allah dalam Al-Baqarah : 30 yang artinya “Kenapa Engkau hendak menciptakan khalifah dibumi, yaitu orang-orang yang akan berbuat kerusakan & saling menumpahkan darah, sedangkan kami ini (para Malaikat) masih selalu bertasbih, bertauhid, dan mesucikan Engkau”, Allah berfirman : “Sesungguhnya Aku lebih mengetahui terhadap apa yang kalian tidak ketahui” (Al-Baqarah : 30)

Ternyata jawaban Allah membuat malaikat merasa berdosa.  Kemudian untuk menebus segala dosa-dosanya, golongan malaikat ini berthowaf (berkeliling) Arsy sebanyak 7 kali. Allah kemudian memerintahkan kepada para malikat itu untuk turun ke bumi dan membangun sebuah Baitullah (Ka’bah). Tujuannya agar jika Adam (manusia) berbuat dosa, dapat diampuni dengan berthowaf mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 kali.

Namun ketika banjir pada zaman Nabi Nuh AS, Allah mengangkat Baitullah ini ke atas langit. Di sisi Ka’bah tersebut dibangun sebuah menara yang kira-kira tingginya adalah sepanjang 500 tahun perjalanan. Apabila telah datang hari Jum’at, malaikat jibril naik keatas menara dan mengumandangkan adzan, Malaikat Israfil yang membacakan khutbah Jum’at nya dan sholat Jum’at diimami oleh Malaikat Mikail, diikuti oleh seluruh Malaikat yang berada di Baitul Makmur tersebut.

Bangunan  ini memiliki kedudukan yang sangat mulia, maka nama ini tidak boleh digunakan untuk menamakan satu rumah, atau tempat, atau bangunan apapun. Sebagaimana kita tidak boleh memberi nama tempat di sekitar kita dengan nama Ka’bah atau Baitul Haram, atau nama-nama lainnya yang diagungkan. Karena termasuk bentuk pennghinaan dan agar tidak dianggap menyerupakan.

Sekiranya jika ada yang kurang dalam pembahasan artikel ini mohon ditambahkan. Jika ada yang salah mohon dikoreksi. Allah SWT penguasa segala pengetahuan di alam semesta.


Tag : Islam

Minggu, 10 Januari 2016

Asal Nama Islam

Asal Nama Islam

Asal nama Islam langsung dari Allah SWT. Artinya, nama “Islam” bagi agama ini diberikan oleh Allah SWT sendiri. 
Allah SWT juga menyatakan hanya Islam agama yang diridhai-Nya dan siapa yang memeluk agama selain Islam kehidupannya akan merugi di akhirat nanti. 
Islam sudah dinyatakan sempurna sebagai ajaran-Nya yang merupakan rahmat dan karunia-Nya bagi umat manusia, sehingga mereka tidak memerlukan lagi ajaran-ajaran selain Islam.
"Sesungguhnya dien (agama) yang diridhai Allah hanyalah Islam." (Q.S. 3:19)
"Dan siapa saja yang memeluk agama selain Islam, tidak akan diterima (oleh Allah) dan dia termasuk orang-orang yang merugi di akhirat nanti." (Q.S. 3:85)
"Pada hari ini Aku telah sempurnakan agamamu (Islam) dan Aku telah melimpahkan nikmat-Ku padamu, dan Aku ridha Islam sebagai agamamu." (Q.S. 5:3).
Menurut Al-Quran, semua agama yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul sebelum Muhammad pun pada hakikatnya adalah agama Islam dan pemeluknya disebut Muslim (Q.S. 2:136, 10:72 dan 84, 12:101,  3:52, 4:163-165). Bahkan, Hawariyun, yakni sebutan bagi pengikut Nabi Isa a.s., menyebut diri mereka Muslim (Q.S. 3:52).
Inilah salah satu kekhasan agama Islam. Asal Nama “Islam” tidak diasosiasikan pada pribadi seseorang, nama ras, suku, ataupun wilayah. Sebagaimana dikemukakan Abul A’la Al-Maududi[1], Islam sama sekali tidak seperti nama agama-agama lain yang dikaitkan dengan nama sesuatu atau seseorang.
“...Christianity takes its appelation from the name of its prophet Yesus Christ; Budhism from its founder Gautama Budha; Zoroastrianisme from its founder Zoroaster; and Judaism, the reigion of Jews, from the name of tribe Judah (of the Country of Judea) where in it took its birth. But no so with Islam...”
Zoroaster adalah agama di Parsi. Nama itu disandarkan pada nama pendirinya, Zoroaster yang meninggal tahun 583 SM.
Agama Budha (Budhism) berasal dari nama Sidharta Budha Gautama, lahir tahun 560 SM di India. Budha adalah gelar bagi Sidharta yang dianggap memperoleh penerangan agung.
Yahudi (Judaism), yang dianut orang-orang Yahudi, berasal dari nama negara Juda (Judea) atau Yahuda.
Agama Hindu (Hinduism) adalah kumpulan macam-macam agama dan tanggapan tentang dunia dari orang-orang India.
Agama Tao (Taoism) pada mulanya adalah suatu ajaran filsafat, sebagai aspek manifestasi perasaan, spontanitas, dan khayalan orang-orang Cina yang berkembang menjadi agama dalam Dinasti Han (206 SM-220 M).
Kristen diambil dari nama Tuhan yang dipujanya, Jesus Christ. Pengikut Kristus disebut pula orang-orang Kristen. Dalam Al-Quran ada istilah Nasrani atau Nashoro, disandarkan pada asal daerah Jesus, yakni Nazareth (Jesus of Nazareth)[2].n



[1] Abul A’la Al-Maududi, Toward Understanding Islam, Pakitan 1966, sebagaimana dikutip Endang Saifudin Anshari dalam Kuliah Al-Islam (Pustaka Bandung, 1978) hlm. 40-41.
[2] Drs. Nasruddin Razak, Dienul Islam, Al-Ma’arif Bandung, 1989, hlm. 55.

Pengertian Islam

Pengertian Islam

pengertian islam
Pengertian Islam dapat ditinjau dari dua segi, yaitu segi bahasa dan segi istilah.

Pengertian Islam: Etimologis

Secara etimologis (asal-usul kata, lughawi) kata “Islam” berasal dari bahasa Arab: salima yang artinya selamat. Dari kata itu terbentuk aslama yang artinya menyerahkan diri atau tunduk dan patuh. Sebagaimana firman Allah SWT:

“Bahkan, barangsiapa aslama (menyerahkan diri) kepada Allah, sedang ia berbuat kebaikan, maka baginya pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula bersedih hati” (Q.S. 2:112).

Dari kata aslama itulah terbentuk kata Islam. Pemeluknya disebut Muslim. Orang yang memeluk Islam berarti menyerahkan diri kepada Allah dan siap patuh pada ajaran-Nya[1].

Hal senada dikemukakan Hammudah Abdalati[2]. Menurutnya, kata “Islam” berasal dari akar kata Arab, SLM (Sin, Lam, Mim) yang berarti kedamaian, kesucian, penyerahan diri, dan ketundukkan

Dalam pengertian religius, menurut Abdalati, pengertian Islam adalah "penyerahan diri kepada kehendak Tuhan dan ketundukkan atas hukum-Nya" (Submission to the Will of God and obedience to His Law).
Hubungan antara pengertian asli dan pengertian religius dari kata Islam adalah erat dan jelas. Hanya melalui penyerahan diri kepada kehendak Allah SWT dan ketundukkan atas hukum-Nya, maka seseorang dapat mencapai kedamaian sejati dan menikmati kesucian abadi.

Ada juga pendapat, akar kata yang membentuk kata “Islam” setidaknya ada empat yang berkaitan satu sama lain.

  1. Aslama. Artinya menyerahkan diri. Orang yang masuk Islam berarti menyerahkan diri kepada Allah SWT. Ia siap mematuhi ajaran-Nya.
  2. Salima. Artinya selamat. Orang yang memeluk Islam, hidupnya akan selamat. 
  3. Sallama. Artinya menyelamatkan orang lain. Seorang pemeluk Islam tidak hanya menyelematkan diri sendiri, tetapi juga harus menyelamatkan orang lain (tugas dakwah atau ‘amar ma’ruf nahyi munkar). 
  4. Salam. Aman, damai, sentosa. Kehidupan yang damai sentosa akan tercipta jika pemeluk Islam melaksanakan asalama dan sallama.

Pengertian Islam: Terminologis

Secara terminologis (istilah, maknawi) dapat dikatakan, Islam adalah agama wahyu berintikan tauhid atau keesaan Tuhan yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad Saw sebagai utusan-Nya yang terakhir dan berlaku bagi seluruh manusia, di mana pun dan kapan pun, yang ajarannya meliputi seluruh aspek kehidupan manusia.

Cukup banyak ahli dan ulama yang berusaha merumuskan definisi atau pengertian Islam secara terminologis. KH Endang Saifuddin Anshari[3] mengemukakan, setelah mempelajari sejumlah rumusan tentang agama Islam, lalu menganalisisnya, ia merumuskan dan menyimpulkan pengertian Islam, bahwa agama Islam adalah:

  1. Wahyu yang diurunkan oleh Allah SWT kepada Rasul-Nya untuk disampaikan kepada segenap umat manusia sepanjang masa dan setiap persada.
  2. Suatu sistem keyakinan dan tata-ketentuan yang mengatur segala perikehidupan dan penghidupan asasi manusia dalam pelbagai hubungan: dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam lainnya.
  3. Bertujuan: keridhaan Allah, rahmat bagi segenap alam, kebahagiaan di dunia dan akhirat.
  4. Pada garis besarnya terdiri atas akidah, syariatm dan akhlak.
  5. Bersumberkan Kitab Suci Al-Quran yang merupakan kodifikasi wahyu Allah SWT sebagai penyempurna wahyu-wahyu sebelumnya yang ditafsirkan oleh Sunnah Rasulullah Saw. Wallahu a'lam.*


[1] Drs. Nasruddin Razak, Dienul Islam, Al-Ma’arif Bandung, 1989, hlm. 56-57.
[2] Hammudah Abdalati, Islam in Focus, American Trust Publications Indianapolis-Indiana, 1975, hlm. 7.
[3] Endang Saifuddin Anshari, Kuliah Al-Islam, Pusataka Bandung, 1978, hlm. 46.

Sabtu, 09 Januari 2016

Hukum Berdoa di Facebook dan Twitter

Hukum Berdoa di Facebook dan Twitter

Hukum Berdoa di Facebook dan Twitter
Hukum Berdoa di Facebook dan Twitter

KEHADIRAN media sosial bukan saja mengubah gaya hidup dan komunikasi, tapi juga gaya berdoa. Kini banyak Facebooker (pengguna Facebook) dan Tweeps (pengguna twitter) yang berdoa di status FB dan Twitternya. "Ya Allah..." dan "Ya Rab...." demikian mereka menulis.

Apa niat mereka menuliskan doanya di Facebook? Wallahu a'lam. Tapi mungkin, ingin diaminkan oleh teman-temannya.

Masalahnya, berdoa hanya untuk Allah dan tidak usah dipertontonkan kepada orang lain. Berdoa harus ikhlas, hanya kepada Allah, tidak boleh ada unsur riya' atau ingin dipuji orang lain. Kita khawatir, seseorang menulis doanya di Facebook/Twitter, justru ada niatan "show", pamer, sehingga jatuh ke jurang riya' (syirik kecil).
"Ya’qub menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku." (QS. Yusuf: 86).
"Berdoalah kepada Allah dengan penuh keyakinan akan terkabul. Dan ketahuilah bahwa Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai dan lena” (HR At-Tirmidzi)

Rasulullah Saw juga menegaskan, adukanlah segala masalah hanya kepada Allah, bahkan masalah tali sandal yang putus sekalipun!

"Hendaklah di antara kalian mengadukan segala urusannya hanya kepada Allah saja, walaupun hanya tali sandal yang putus." (HR. Tirmidzi).
Dengan dua alasan itu, khawatir jadi riya' dan syirik, maka hukum berdoa di Facebook itu selayaknya dihindari oleh setiap Muslim. Wallahu a'lam bish-showabi.*
 

Nabi Muhammad SAW – Peristiwa Jin Memeluk Islam

Sekembalinya berdakwah dari Ta'if, Baginda SAW singgah di sebuah kebun tamar di luar Makkah untuk beberapa hari kerana terhalang daripada memasuki Makkah. Ketika berada di kebun tamar tersebut, Baginda SAW beribadah seperti biasa.
Namun tanpa disedari, ketika Baginda SAW sedang membaca al-Quran, Baginda SAW telah didatangi sekumpulan jin dari Nasibiyyin yang mendengar bacaan Baginda SAW. Para jin yang takjub mendengar bacaan ayat al-Quran lantas mengerumuni Rasulullah SAW.
Hal ini dijelaskan oleh Allah SWT dalam ayat berikut, yang bermaksud:-
“Dan sesungguhnya, ketika hamba Allah (Nabi Muhammad SAW) berdiri mengerjakan ibadat kepada-Nya, mereka hampir-hampir menindih satu sama lain mengerumuninya.” (surah al-Jinn 72:19)
Para jin tersebut kemudiannya pulang menyeru kaumnya kepada Islam.
Rasulullah SAW hanya dapat memasuki Makkah selepas mendapat bantuan perlindungan daripada Mut’im bin ‘Adiyy. Hal ini demikian keranan penduduk Makkah berasa marah akan Rasulullah SAW yang telah meninggalkan Makkah untuk mendapat bantuan penduduk Ta'if.
Rasulullah SAW kemudiannya diarahkan berdakwah kepada para jin dalam peristiwa lain. Dalam sebuah hadith diriwayatkan bahawa Rasulullah SAW pernah meninggalkan para sahabatnya kerana dijemput utusan jin
Para sahabat berasa sangat risau tentang keselamatan Baginda SAW. Menjelang pagi, Baginda SAW muncul dari arah gua Hira' dan menjelaskan bahawa Baginda SAW telah pergi berdakwah kepada para jin.
Rekod-Rekod Jin Masuk Islam di dalam al-Quran
Firman Allah SWT yang bermaksud:-
“Dan (ingatlah) semasa Kami hadapkan seromobongan jin datang kepadamu (wahai Muhammad) untuk mendengar al-Quran; setelah mereka menghadiri bacaannya, berkatalah (sesetengahnya kepada yang lain):-

‘Diamlah kamu (untuk mendengarnya)!’

Kemudian setelah selesai bacaan itu, kembalilah mereka kepada kaumnya untuk memberi peringatan dan amaran.

Mereka berkata:-

‘Wahai kaum kami! Sesungguhnya kami telah mendengar Kitab (al-Quran) yang diturunkan (oleh Allah) sesudah Nabi Musa, yang menegaskan kebenaran kitab-kitab suci yang datang sebelumnya, membimbing kepada kebenaran (tauhid) dan ke jalan yang lurus (agama Islam).’

‘Wahai kaum kami! Sahutlah seruan Rasul (Nabi Muhammad) yang mengajak ke jalan Allah, serta berimanlah kamu kepadanya, supaya Allah mengampunkan kamu, dan menyelamatkan kamu daripada azab seksa yang tidak terperi sakitnya.’

‘Dan sesiapa tidak menyahut (seruan) Rasul yang mengajaknya ke jalan Allah, maka ia tidak akan dapat melepaskan diri daripada seksaan Allah di bumi, dan ia tidak mempunyai pelindung selain Allah. Mereka berada dalam kesesatan yang nyata.’” (surah al-Ahqaf 46:29-32)
Jin vs Manusia
Generasi awal jin yang memeluk Islam ini boleh diiktiraf sebagai para sahabat Nabi SAW. Menurut ulama' hadith, sahabat didefinisikan sebagai sesiapa sahaja yang pernah bertemu dengan Rasulullah SAW, beriman dengan Baginda SAW dan mati dalam Islam.
Selain itu, Allah SWT juga mengiktiraf kewujudan jin yang soleh dalam firman-Nya yang bermaksud:-
“Dan bahawa ada antara kami golongan yang baik keadaannya, dan ada antara kami yang selain daripada itu, kami menempuh jalan-jalan yang berlainan.” (surah al-Jinn 72:11)
Dalam sebuah hadith, Nabi SAW memuji para sahabatnya daripada kalangan jin yang sensitif terhadap ayat Allah SWT ketika mendengar surah ar-Rahman. Ketika para sahabat hanya terdiam mendengarkan surah ini, Baginda SAW bersabda:-
“Aku pernah membaca surah ar-Rahman kepada para jin. Reaksi mereka jauh lebih baik berbanding kamu semua.
Setiapkali aku membaca:-
‘Maka yang mana satukah antara nikmat Tuhan kamu, yang kamu hendak dustakan wahai umat manusia dan jin?’
Mereka berkata:-
‘Tiada satu pun antara nikmat-nikmat-Mu wahai Tuhan kami yang kami dustakan, maka bagi-Mu sahajalah segala pujian.’” (HR at-Tirmizi)
Nama-Nama Jin
Ada yang pernah menanyakan sekiranya terdapat rekod di dalam mana-mana ayat al-Quran mahupun hadith-hadith mengenai nama-nama jin semasa zaman Rasulullah SAW. Persoalan jin adalah perkara ghaib yang tidak dapat diketahui melainkan dengan panduan wahyu
Kebanyakan carian setakat ini tidak menemui perincian nama para sahabat jin ini dalam ayat al-Quran atau hadith yang sahih.
Walau bagaimanapun, ada antara nama mereka pernah direkodkan oleh Ibn Hajar dalam kitab Al-Isabah fi Ma’rifat al-Sahabah iaitu Zawba’ah, al-Arqam, al-Adras, Hasir, Khasir, Surraq, ‘Amru bin Jabir.
Apa yang penting bukanlah perincian nama mereka, tetapi keluasan horizon dakwah Rasulullah SAW yang melangkaui alam jin.


Wallahua'lam.
Design by Abdul Munir Visit Original Post Islamic2 Template