Kamis, 31 Desember 2015

Hukum Perayaan Tahun Baru Dalam Perspektif ke-Islaman

Hukum Perayaan Tahun Baru Dalam Perspektif ke-Islaman
 

Perpindahan tahun masehi (tahun baru) sudah menjadi agenda besar bagi seluruh masyarakat seluruh dunia untuk melakukan pesta-pesta yang dilakukan secara glamour maupun tidak. Dan ironisnya kebanyakan beberapa ummat islam adalah sponsor dan sekaligus sebagai pelaku utama dalam pesta tersebut.
Sejarah kalender Gregorian (masehi)
Kalender Gregorian atau kalender masehi, sudah menjadi standar perhitungan hari internasional. Pada mulanya kalender ini dipakai untuk menetukan jadwal kebaktian gereja-gereja katolik dan protestan. Kalender Gregorian adalah kalender murni surya yang betemu siklusnya pada tiap 400 tahun sekali (146097 hari). Satu tahun normal panjangnya 365 hari, setiap bilangan tahun yang habis dibagi 4, tahunnya memanjang menjadi 366 hari, namun tidak berlaku untuk kelipatan 100 tahun dan berlaku kembali tiap kelipatan 400 tahun. Contoh tahun 2000 adalah tahun panjang (kabisat, leap year) sedangkan tahun 1990 tahun normal.
Kalender Gregorian adalah pembaruan dari kalender Julian. Dalam 16 abad pemakaian kalender Julian, titik balik surya sudah bergeser maju sekitar 10 hari dari yang biasanya ditengarai dengan tanggal 21 Maret tiap tahun. Hal ini membuat kacaunya penentuan hari raya paskah yang bergantung pada daur candra dan daur surya di titik balik tersebut. dikawatirkan paskah akan semakin bergeser tidak lagi jatuh di musim semi untuk belahan bumi utara, serta semakin menjauhi peringatan hari pembebasan zaman Nabi Musa a.s. (penyebrangan laut merah).
Pemikiran tentang koreksi ini sebenarnya telah mulai di pergunjingkan dengan keluarnya tabel-tabel koreksi oleh gereja sejak zaman Paus Pius V. Dekrit rekomendasi baru dikeluarkan oleh penggantinya, yaitu Paus Gregorius XIII dan disahkan pada tahun 24 Februari 1582. Isinya antara lain tentang koreksi daur tahun kabisat dan pengurangan 10 hari dari kalender Julian. Dengan demikian, tanggal 4 Oktober 1582 Julian, esok harinya adalah tanggal 15 Oktober 1582 Gregorian. Tanggal 5 hingga 14 Oktober 1582 tidak pernah ada dalam sejarah ini. Sejak saat itu, titik balik surya bisa kembali ditandai dengan tanggal 21 Maret tiap tahun, dan tabel bulan purnama yang baru disahkan untuk menentukan perayaan paskah di seluruh dunia. Pada mulanya kaum protestant tidak menyetujui reformasi Gregorian ini, baru pada abad berikutnya kalender itu diikuti. Dalam tubuh katolik sendiri, kalangan gereja ortodox juga besikeras untuk tetap mengikuti kalender Julian, namun pemerintahan demi pemerintahan mulai mengakui dan akhirnya  pemakaiannya semakin meluas seperti yang kita ketahui sekarang.
Bagaimana menyikapi tahun baru masehi?
Perayaan tahun baru masehi sudah menjadi tren dalam kehidupan masyarakat, tren yang sudah mendunia sehingga dapat menembus relung-relung agama, budaya dan kearifan lokal. Sudah banyak dilakukan di tanah air tercinta kebiasaan-kebiasaan yang dibangun dalam perayaan tahun baru di berbagai penjuru tanah air, baik yang di kota besar ataupun di tingkat desa. Merayakannya dengan hura-hura, seperti bergadang semalam suntuk, konvoi di jalan raya, panggung hiburan rakyat, pesta kembang api, tiup terompet pada detik memasuki tahun baru, wayang semalam suntuk bahkan tidak ketinggalan ditambah lagi gemerlap yang ditawarkan oleh beberapa stasiun televisi yang menjadikan acara tahun baru sebagai program unggulan berbaur bintang yang bertujuan untuk menyita waktu dan perhatian masyarakat di depan televisi. tentunya dari fenomena yang terjadi sudah menjadi rutinitas semu bagi bangsa ini. Sebenarnya bagaimana Islam memandang perayaan tahun baru?
Di zaman Romawi, pesta tahun baru adalah untuk menghormati Dewa Janus (Dewa yang digambarkan bermuka dua). Kemudian perayaan ini terus dilestarikan dan menyebar ke Eropa (abad permulaan masehi). Seiring muncul dan berkembangnya agama nasrani, akhirnya perayaaan ini dijadikan sebagai satu perayaan satu paket dengan natal. itulah yang menjadi sebab ucapan natal dan tahun baru di jadikan satu: "Merry Christmas and Happy New Year".

Dalam perspektif agama, Islam melarang umatnya untuk meniru-niru, mencontoh, menyerupai, mengikuti, dan menyamai umat di luar islam (Tasyabbuh), hal ini berdasarkan firman Allah SWT dalam Q.S Al-Maa'idah ayat 3, yang artinya. "Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagi mu."  Mengutip apa yang ditulis oleh Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat dalam buku beliau Risalah Bid'ah, didalam ayat ini, Allah menegaskan bahwa agama Islam telah sempurna dan lengkap, yang tidak memerlukan sedikitpun tambahan dan pengurangan, apapun bentuk dan alasannya dan tambahan-tambahan tersebut meskipun disangka baik atau dari siapa saja datangnya meskipun dianggap benar oleh sebagian manusia, adalah suatu perkara besar yang sangat dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya. Akan tetapi sangat dicintai oleh iblis dan pengikutnya.
Dalam sebuah hadits diriwayatkan : "Suatu ketika seorang lelaku datang kepada Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam untuk meminta fatwa kerena ia telah bernadzar memotong hewan di Buwanah (nama sebuah tempat), maka Nabi Shallallahu;alaihi wa sallah menanyakan kepadanya: "Apakah disana ada berhala sesembahan orang jahiliyah?" Dia menjawab "Tidak". Beliau bertanya "Apakah di sana tempat dirayakannya hari raya mereka?" Dia menjawab "Tidak". Maka Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda, "Tunaikan nadzarmu, karena sesunggunya tidak boleh melaksanakan nadzar dalam maksiat kepada Allah dan dalam hal yang tidak dimiliki oleh anak Adam". (H.R. Abu Daud dengan sanad yang sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim).
Hadits ini menunjukkan terlarangnya menyembelih untuk Allah SWT di tempat yang bertepatan dengan tempat yang digunakan untuk menyembelih kepada selain Allah SWT, atau di tempat orang-orang kafir merayakan pesta atau hari raya. Sebab itu berarti mengikuti mereka dan menyerupai perbuatan mereka dan menjadi sarana yang mengantarkan kepada syirik. Apalagi ikut merayakan hari raya mereka, maka di dalamnya terdapat wala' (loyalitas) dan dukungan dalam menghidupkan syi'ar-syi'ar kekufuran. Akibat paling berbahaya yang timbul karena berwala' terhadap kafir adalah tumbuhnya rasa cinta dan ikatan batin kepada orang-orang kafir sehingga dapat menghapus keimanan.

Penutup dan Kesimpulan
Bagi seorang muslim ada beberapa mudharat yang ditimbulkan dari perayaan tahun baru. Diantaranya 
  • pertama Merupakan salah satu bentuk tasyabbuh (menyerupai) dengan orang-orang kafir yang telah dilarang oleh  Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam.
  • kedua campur baur (ikhtilath) antara pria dan wanita seperti yang kita lihat hampir seluruh perayaan malam tahun baru bahkan sampai terjerumus pada perbuatan zina.
  • ketiga pemborosan harta dan waktu, karena uang yang mereka keluarkan untuk merayakannya. (membeli hal pendukung perayaan dan tidak bermanfaat).
Meskipun ritualnya berbeda dalam perayaannya itu tetap saja turut serta dalam perayaannya.

MUDHARAT MERAYAKAN TAHUN BARU

MUDHARAT MERAYAKAN TAHUN BARU

Tulisan ini merupakan Tausyiah dri Alm. Habib Munzir rahimahumullah.

Untuk mencegah dari perbuatan mudharat dan kemaksiatan, perayaan malam tahun baru menurut Pimpinan Majelis Rasulullah Habib Munzir bin Fuad Al Musawa lebih baik dihindari.

Pada malam tahun baru biasanya akan banyak panggung-panggung hiburan, ribuan manusia berjingkrak ria, berjoget bahkan kebanyakan dari mereka hingga mabuk-mabukkan untuk merayakan malam pergantian tahun tersebut.

"Hindarkanlah dirimu, anak-anakmu, keluargamu, tetanggamu, teman-temanmu, dari merayakan malam itu, hindarkan terompet-terompet tahun baru dari anak-anakmu, terompet itu ditiup oleh bibir-bibir muslimin, sebagai tanda kemenangan bagi kaum kuffar," .

Dengan merayakan malam tahun baru menurut Habib Munzir menandakan anak-anak muslimin telah dibawah injakan kaki orang kuffar karena mereka turut memeriahkan perayaan orang-orang yang bukan agamanya.
 
Inilah mudharat merayakan tahun baru.

1. Menyerupai kaum kuffar.
Nabi shollallaahu 'alaihi wasallam bersabda, "Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka." (HR Abu Dawud).
Hadits ini menunjukkan bahwa menyerupai kaum kuffar adalah haram, bahkan bisa sampai tingkat kekafiran bila disertai dengan keridlaan terhadap syi'ar mereka.

2. Berbuat maksiat.
Dengan bercampur baurnya antara laki-laki dan wanita di jalan-jalan dan di tempat tempat hiburan, sehingga menjerumuskan kepada zina dan maksiat lainnya.

3. Menghabiskan waktu sia-sia.
Waktu kelak akan dipertanyakan oleh ALLAH, dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Diantara baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat." (HR At Tirmidzi).

4. Menghamburkan uang sia-sia.
Dengan membeli petasan kembang api yang harganya bisa jutaan rupiah, terompet dan lainnya. Semua itu termasuk mubadzir, dan orang-orang mubadzir adalah teman-teman syaithan.

NB : kalau tahun baru di rayakan dengan membaca Al-Qur'an bersama, mengaji bersama, berdzikir brsama. Ini tidak ada msalah. Untuk itu lah di malam pergantian tahun ini, kita boleh pilih, merayakan tahun baru dengan jalan-jalan, berpora-pora ria, atau berdzikir brsama, baca Qur'an bersama, mengaji bersama, atau pun betafakkur (mengingat apa2 saja dosa yg sudah dibuat sepanjang tahun ini). Kalau seperti itu bisalah kita di tahun yang baru, menjadi insan yang lebih baik lagi. Tergantung anda mau pilih yg manea? Kalau jalan-jalan, berpesta pora, main bunga api dan lain sbagainya, haaa berarti kita dah sama dengan macam orang-orang kuffar (kafir) itu dan dengan kita merayakan tahun baru seperti itu, kita ini berarti sudah dibawah injakan kaum-kaum kuffar. Dan mereka akan bertepuk tangan atas kejayaan (kemenangan) mreka, karena anak-anak Muslimin ikut turut serta meramaikan perayaan mereka. Kalau begitu anda mau pilih yg mana ?

Kamis, 24 Desember 2015

Detik Maulidur Rasul

Diriwayatkan oleh Umar bin Khatthab r.a., beliau berkata : saya bersama Rasulullah s.a.w sedang duduk-duduk. Rasul s.a.w. bertanya kepada para sahabat, “Katakan kepadaku, siapakah makhluk Allah yang paling besar imannya?” Para sahabat menjawab; ‘Para malaikat, wahai Rasul’. Nabi s.a.w bersabda, “Tentu mereka demikian. Dan mereka berhak seperti itu. Tidak ada yang bisa menghalangi itu, kerana Allah s.w.t telah memberikan mereka tempat”. Sahabat menjawab, “Para Nabi yang diberi kemuliaan oleh Allah s.w.t, wahai Rasul”. Nabi s.a.w. bersabda, “Tentu mereka demikian. Dan mereka berhak seperti itu. Tidak ada yang bisa menghalangi itu, kerana Allah s.w.t telah memberikan mereka tempat”. Sahabat menjawab lagi, “Para syuhada yang ikut bersyahid bersama para Nabi, wahai Rasul”. Nabi s.a.w. bersabda, “Tentu mereka demikian. Dan mereka berhak seperti itu. Tidak ada yang bisa menghalangi itu, kerana Allah s.w.t telah memberikan mereka tempat”.
“Lalu siapa, wahai Rasul?”, tanya para sahabat.
Lalu Nabi s.a.w. bersabda, “Kaum yang hidup sesudahku. Mereka beriman kepadaku, dan mereka tidak pernah melihatku, mereka membenarkanku, dan mereka tidak pernah bertemu dengan aku. Mereka menemukan kertas yang menggantung, lalu mereka mengamalkan apa yang ada pada kertas itu. Maka, mereka-mereka itulah yang orang-orang yang paling utama di antara orang-orang yang beriman”. [Musnad Abî Ya’lâ, hadits nombor 160].

Waktu yang ditunggu-tunggu itu belum datang juga, namun beberapa orang masih terus mencari. Mereka menelusuri hujung-hujung kota Mekkah. Dari satu tempat ke tempat lain, orang-orang yang merindukan kehadiran seorang pembebas itu tak lupa bertanya kepada orang-orang yang mereka jumpai di setiap tempat. Mereka bertanya begini kepada setiap orang, “Siapakah di antara kalian yang memiliki bayi laki-laki?”. Namun tak seorang pun mengiyakan pertanyaannya. Orang awam tentu tidak memahami maksud pertanyaan itu, namun orang-orang itu tidak juga berhenti untuk mencari dan menanyakan di mana gerangan bayi laki-laki yang dilahirkan. Semuanya ini dilakukan untuk membuktikan kepercayaan yang selama ini diyakininya. Bahawa dunia yang telah rosak sedang menanti kedatangannya.

Hingga pada suatu pagi.
Sebagaimana aktifitas yang telah diberlakukan semenjak zaman nabi Ibrahim a.s, setiap bayi yang lahir pada saat itu segera di-thawaf-kan. Ini tidak lain untuk mendapatkan hidup yang penuh barokah, yakni bertambahnya kebaikan lahir dan batin, serta mengharapkan kemuliaan dan petunjuk dari Allah s.w.t. Tidak terkecuali bagi seorang Sayyid Abdul Muththalib, yang terkenal masih bersih dalam urusan teologi. Begitu mengetahui cucu laki-lakinya lahir, maka segeralah beliau membawa bayi itu menuju Ka’bah, lalu Thawaf, membawa bayi itu mengelilingi Ka’bah tujuh kali sambil berdoa kepada Allah s.w.t.

**
Tepat sesaat setelah Sayyid Muththalib memasuki rumah setelah men-thawaf-kan cucunya, lewatlah seseorang yang selama beberapa hari ini mencari kelahiran seorang bayi laki-laki. Saat itu, orang yang sudah cukup tua tersebut masih menanyai kepada setiap orang yang dia temui, “Siapakah di antara kalian yang memiliki bayi laki-laki?”. Pada saat itulah sayyid Muththalib menyadari ada seorang tua yang mencari bayi laki-laki.
Dipanggilnya orang tua itu, lalu beliau berkata kepadanya, “Saya punya bayi laki-laki, tapi, tolong katakan, apa kepentingan Anda mencari bayi laki-laki?”.
“Saya ingin melihat bayi laki-laki yang baru lahir. Itu saja”, jawab orang tua tersebut yang sekonyong-konyong muncul semangat baru dalam dirinya. Tanpa memberikan kesulitan apapun, Sayyid Muththalib mempersilahkan orang tua itu masuk ke rumahnya untuk melihat bayi yang dimaksud.

Apa yang terjadi saat orang tua itu melihat bayi yang ditanyakannya, adalah hal yang tidak pernah dibayangkan oleh sayyid Muththalib. Sang Sayyid memang tidak pernah berfikir apa pun. Sebagai layaknya seorang datuk yang berbahagia mempunyai cucu, beliau cukup bersyukur sang cucu dilahirkan dalam keadaan sihat wal-afiat. Namun, bagi orang tua yang sedang mencari sesuatu itu tidak demikian. Begitu melihat bayi dan menemukan ciri-ciri sebagaimana disebutkan dalam al-Kitab yang dia baca, serta informasi dari orang-orang terdahulu, orang tua itu berseru, “Benar, benar sekali ciri-cirinya, inilah bayi yang akan menjadi Nabi akhir zaman kelak…”. Dalam kebengongan Sayyid Muththalib, pengsanlah orang tua yang selama ini mencari-cari bayi laki-laki tersebut, lalu wafat pada saat itu juga.
***
Orang-orang yang mencari bayi laki-laki saat itu, termasuk seorang tua yang akhirnya mendapatkannya dan pengsan, adalah para agamawan yang meyakini akan kehadiran seorang Nabi akhir zaman. Mereka sangat teguh memegang berita akan kemunculan nabi akhir zaman ini. Semakin kuat keyakinan mereka, semakin mereka meninggalkan urusan-urusan dunianya guna menanti atau mencari nabi akhir zaman itu. Penantian nabi akhir zaman itu, selain berkat informasi dari kitab-kitab mereka, saat itu, mereka juga sangat merasakan bahawa keadaan membutuhkan kehadiran sang Nabi.
Sedang sang bayi yang ditunggu adalah bayi Muhammad Shalla-llâhu ‘alayhi wa sallama, bayi yang kelak menjadi nabi terakhir.
Demikianlah, akhir dari kisah pencarian para agamawan pada zaman pra Nabi Muhammad saw. Pencarian atas apa yang diisyaratkan dalam kitab-kitab mereka, bahawa akan diutusnya nabi akhir zaman untuk meluruskan kembali akidah-akidah yang telah tidak berdasar.
Dari kisah ini, kita mengetahui betapa pada waktu itu masyarakat mengalu-alukan kehadiran Nabi Muhammad saw, ‘Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin’. (QS. 9:128). Hampir setiap kaum tahu bahawa ketika situasi sudah sangat rosak, nabi akhir zaman akan muncul. Namun, dari mana dia lahir, hal itu yang tidak pernah diketahui secara pasti. Yang diketahui pada saat itu adalah ciri-ciri tempat, posisi bintang, ciri-ciri bayi, dan lain sebagainya.
Dalam kitab-kitab lama, ciri-ciri tersebut ditulis secara jelas. Hingga masyarakat yang membaca kitab-kitab itu pun akan mengetahui pula. Tidak sekadar mengetahui, tapi mereka juga berkeinginan untuk dekat dengan nabi akhir zaman tersebut. Salah satu yang diimpikan oleh berbagai kaum saat itu, adalah harapan agar nabi akhir zaman itu muncul dari keturunannya. Hal demikian tentu sangat manusiawi. Maka, untuk mewujudkan impian itu, banyak kaum yang melakukan migrasi dari kampung halamannya, untuk mencari tempat yang disebutkan ciri-cirinya oleh kitab-kitab lama.

Ada beberapa tempat yang saat itu menjadi pilihan para pencari nabi akhir zaman. Tempat-tempat itu antara lain adalah Mekkah, Madinah (Yathrib) serta Yaman. Salah satu dari tiga tempat itu diyakini menjadi tempat nabi akhir zaman dilahirkan. Banyak juga para agamawan yang menduga nabi akhir zaman masih akan muncul dari kawasan Jerusalem atau Damaskus.

***
Untuk kes Mekkah, orang-orang atau kaum non Quraisy yang minoriti adalah kaum pendatang yang sengaja tinggal di Mekkah untuk menanti kedatangan nabi akhir zaman. Sedangkan kes migrasi di Madinah, orang-orang Yahudi-lah yang banyak menempati kota tersebut waktu itu. Suku bangsa seperti Bani Nadhir, Quraizah, Qainuqa’ dan suku-suku kecil lainnya, yang sering muamalahnya menghiasi sejarah Islam dan târîkh Nabi saw, adalah keluarga-keluarga Yahudi yang bermigrasi dari berbagai kawasan, baik dari Jerusalem, Yaman, mahupun yang lainnya, ke daerah Madinah untuk menanti nabi akhir zaman. Migrasi-migrasi itu terjadi dengan harapan nabi akhir zaman muncul dari keturunan mereka, selain, tentunya, mengharapkan barokah tadi. Migrasi ke Madinah ini dilakukan sudah cukup lama, setidaknya mereka telah mendiami Madinah sekitar 100 tahun sebelum kelahiran Nabi Muhammad saw.
Banyak sekali suku-bangsa yang percaya akan datangnya nabi akhir zaman. Mulai dari Ethiopia (Al-Habsyi) hingga Damaskus (Dimasyqa), serta dari Yaman hingga negeri-negeri Rusia. Semuanya menanti kedatangannya.
***
Sang nabi akhir zaman itu telah lahir. Namun, sangat disayangkan, Allah swt telah dengan cepat memanggil para agamawan yang menjadi “saksi penting” kebenaran Muhammad s.a.w ke sisi-Nya. Seolah-olah sebuah drama yang penuh liku, sedikit demi sedikit, para agamawan yang diharapkan kesaksiannya telah wafat. Tidak bisa dibayangkan, andaikata para agamawan ini, dan segenap murid serta keturunannya, masih hidup serta senantiasa mengikuti perkembangan bayi Nabi Muhammad saw hingga pada usia-usia dewasa dan kenabian, tentu sejarah akan berbicara lain.
Memang, kes-kes wafatnya para agamawan setelah melihat tanda-tanda adanya kenabian, seperti yang terjadi pada orang tua itu, bukanlah yang pertama kali. Dalam rakaman sejarah, banyak sekali informasi yang membahasnya, bahkan sejak zaman sayyid Abdullah—ayahanda Nabi Muhammad saw—belum menikah dengan sayyidah Aminah, dan juga pada masa-masa dalam kandungan sayyidah Aminah. Hingga pada suatu waktu di kemudian hari, tepatnya 40 tahun setelah kelahiran nabi, sejarah juga kehilangan seorang agamawan-monotheis yang informasi spiritualnya sangat berharga bagi keberlangsungan keyakinan terhadap adanya nabi akhir zaman.
Dalam hadits yang diriwayatkan sayyidah ‘Aisyah ra disebutkan bahawa setelah mendapatkan wahyu pertama, sayyidah Khadîjah ra—bersama nabi—mendatangi pak sedaranya, Waraqah bin Naufal, untuk meminta nasihat atas apa yang baru saja terjadi pada nabi. Waraqah bin Naufal adalah seorang agamawan ahli kitab suci.
Setelah Nabi Muhammad saw menceritakan semua yang terjadi kepada beliau—di gua hira itu—langsung saja Waraqah terperanjat dan menjawabnya,”Itu adalah Nâmûs yang diturunkan Allah s.w.t. kepada Musa a.s. Ya Tuhan, semoga saja aku masih hidup ketika orang-orang mengusir nabi ini…”.
Waraqah tahu, bahawa yang menemui Nabi Muhammad saw adalah Namûs, alias malaikat Jibril as, yang pernah menemui Nabi Musa as dulu. Pengakuan Waraqah ini mirip dengan peristiwa yang terjadi beberapa tahun kemudian, saat Nabi Muhammad saw membacakan ayat al-Qur’an di hadapan jin, maka jin itu berkomentar, “Mereka berkata, ’Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (iaitu al-Qur’an) yang telah diturunkan sesudah Musa, yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. [QS. 46:30].
Dan Waraqah tahu, bahawa yang ada di depannya saat itu adalah seorang nabi, yang di kemudian hari akan diusir oleh kaumnya sendiri dari tanah kelahirannya. Tapi, harapan Waraqah untuk menjadi saksi perilaku orang-orang terhadap Nabi Muhammad saw tidak kesampaian. Beberapa hari setelah itu, beliau wafat. Untuk ke sekian kalinya, Allah swt memanggil hamba-Nya yang bisa menjadi “saksi spritual” atas kenabian Muhammad saw. Tapi, itulah, Allah swt tentu memiliki kehendak-kehendak tersendiri yang tidak pernah kita ketahui.

***
Dengan wafatnya beberapa agamawan yang menjadi saksi kebenaran kelahiran sang nabi, terputus pula informasi-informasi ini. Situasi informasi tentang nabi akhir zaman kembali ke titik nol. Namun inti berita yang ada dalam kitab-kitab tentang akan diutusnya nabi akhir zaman saat itu masih ada. Kerana realiti teologis memang memerlukannya. Hanya berita ini yang telah diketahui oleh para agamawan di berbagai tempat, sebagaimana berita akan kelahirannya. Dan mereka hanya dapat memegang keyakinannya, tanpa ada kemampuan untuk mencarinya, sebagaimana pendahulu-pendahulu mereka menemukan waktu saat-saat dilahirkannya Nabi Muhammad s.a.w. Nampaknya, agamawan yang baru membaca kitab-kitab suci itu lebih percaya bahawa nabi akhir zaman sudah benar-benar lahir di dunia ini.
Memang banyak ditemukan beberapa anak laki-laki yang memiliki nama Ahmad atau Muhammad pada masa pra kenabian. Menamakan Ahmad atau Muhammad kerana orang tuanya sangat berharap anaknya menjadi nabi. Tetapi, para agamawan tentu sudah memiliki wasilah atau cara tersendiri untuk menentukan “validiti stempel” yang ada pada seorang nabi, apa lagi nabi akhir zaman. Maka, mereka tinggal menanti detik-detik kedatangan risalah dan deklarasi kenabian sang nabi akhir zaman itu.
***
Secara umum, dapat dikatakan bahawa kebanyakan para agamawan saat itu sudah mengetahui bahawa nabi akhir zaman akan diturunkan dari keluarga tertentu, dan di tempat tertentu. Ada saja yang mengetahui, atau setidaknya meyakini, bahawa nabi akhir zaman itu muncul dari keluarga Bani Hasyim, di daerah Mekkah, dan lain sebagainya. Ini misalnya terjadi kepada seorang pedagang dari Mekkah yang berjulukan Atîq, saat berdagang ke Yaman. Sebagai pedagang yang juga intelektual, ke mana pun pergi beliau tidak lupa untuk berkunjung ke kalangan agamawan.
Saat beliau menemui seorang agamawan di Yaman, dan beliau ditanya tentang asal daerah serta dari keluarga apa, maka setelah mendapatkan jawaban, sang agamawan itu menyatakan, “Nanti akan ada nabi akhir zaman dari daerah kamu dan dari keluarga kamu”. Beliau—Atîq—percaya atas informasi yang disampaikan agamawan Yaman itu. Begitu sang nabi muncul dan mendakwahkan kembali ajaran-ajaran Tauhîd [monotheisme] yang hilang, dia –Atîq– pun segera bersaksi atas kebenaran ajaran itu. Beliau menjadi laki-laki pertama yang membenarkan risalah yang dibawa Nabi Muhammad s.a.w. Saat masuk Islam itu, beliau mengganti nama menjadi Abû Bakar, yang kelak menjadi sahabat utama sang nabi akhir zaman dan mendapatkan gelar Ash-Shiddîq, yang senantiasa membenarkan. Ini adalah jawaban atas pertanyaan, kenapa Abû Bakar r.a. selalu saja membenarkan kebenaran Muhammad.
***
Dalam al-Qur’an, Allah s.w.t. berfirman, “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?”. Mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu”. [QS. 3:81]
Para nabi berjanji kepada Allah s.w.t. bahawa bilamana datang seorang Rasul bernama Muhammad mereka akan iman kepadanya dan menolongnya. Perjanjian nabi-nabi ini mengikat pula para ummatnya. Namun, manusia selalu melakukan penentangan terhadap keputusan-keputusan Allah s.w.t. Para manusia itu ingkar, sebagaimana diceritakan dalam al-Qur’an, “Dan setelah datang kepada mereka Al Qur’an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada merekamaksudnya kedatangan Nabi Muhammad s.a.w. yang tersebut dalam Taurat dimana diterangkan sifat-sifatnya—, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la’nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu”.(QS. 2:89)
Itulah manusia yang sangat tidak beruntung dengan melakukan penolakan terhadap kenabian Muhammad s.a.w. Maka, sangat tepat jika Nabi Muhammad s.a.w. bersabda dalam hadits yang penulis nukil pada permulaan di atas. Bahawa orang yang menjadi saudara Nabi s.a.w. adalah orang yang tidak pernah melihat Nabi s.a.w. namun percaya akan kenabian dan selalu membenarkan sabda-sabda beliau. Orang-orang yang tidak pernah bertemu dengan Nabi s.a.w. tapi selalu membenarkan beliau itulah yang merupakan orang-orang paling utama di antara orang-orang beriman. Ya Allah, tetapkanlah kami untuk selalu beriman kepada-Mu dan kepada Nabi-Mu.

Assalamualaika Ya Rasulullah

Assalamualaika Ya Rasulullah



Kerinduan bertemumu denganmu,Ya Rasulullah 


My heart is so full of longingI wish to be close to my BelovedI dream to walk in the streets of MedinaAnd to quench the thirst of my spiritBy visiting you, O Muhammad!

Berharap sekali untuk berjumpa dengan kekasih ALLAH yang ini. Muhammad namanya. Entah diakhirat nanti atau dalam tidurku dimalam sunyi. Hati sudah terpenuhi dengan kerinduan. Kecintaanku tidaklah bisa lepas dari mu ya Muhammad ya Rasulllah. Penasaran akan datangnya dirimu dalam mimpiku tak diragukan lagi. Ingin melihat wajah tampanmu-wajah berserimu-wajah yang membawa umat muslim menuju tempat yang nyaman diakhirat nanti, Surga.


Assalamu alayka yaYa Rasool AllahAssalamu alayka ya habibiYa Nabiyya Allah

Semoga keselamatan atas mu Ya Muhammad Ya Rasulullah. Walaupun sekarang ku belum bisa bertemu, tapi aku yakin suatu saat nanti akan bertemu denganmu. Ya cukup dengan melihat senyum manismu saja sudah merasa senang, apalagi bertemu langsung denganmu.

 'Ya Allah perlihatkan wajah kekasih-Mu di dalam tidurku - Arina wajhal habibi fil manam'

Sholawat tak henti-hentinya ku lafalkan. Meninggalkan segala kekhawatiran untuk berjumpa dirimu ya Rasulullah Ya Muhammad. Hati terasa tenang,hanyut dalam pujian-pujian untukmu. Belajar dari akhlak mu itulah salah satunya kecintataan. Lembutnya namamu melembutkan jiwa. Membawa dan menghadirkan dirimu setiap saat.


I left all my troubles and worriesAs I entered your Mosque so gentlyAnd as I finally stood there before youI couldn’t stop my tears from fallingIn your presence O Muhammad!

Setiap kali namamu disebut tak segan-segan mengeluarkan suara demi menyanjung dirimu dengan sholawat. Nabi ALLAH Muhammad, memang dirimu menjadi dambaan umat muslim nantinya. Umat muslim membutuhkan pertolongan mu nantinya. Madinahlah tempatmu dimakamkan.Yaaa kau manusia yang luar biasa.

Akankah nantinya akan mengeluarkan air mata jika ku berjumpa orang seperti mu. Entahlah semoga saja kerinduanku akan terjawab. Bisa bersama orang-orang pilihan ALLAH.


O Taiba (Medina), your breeze is so blessedIndeed it brought life back to my spiritI’ve left my heart with my BelovedSending blessings on Muhammad

Sholawat dan salam tak pernah berhenti.Yang terpenting menjalankan segala amal yang kau perintahkan dan menjauhi larangan yang kau larang. Pasti akan baik nantinya.


Assalamu alaika yaYa Rasool AllahAssalamu alayka ya habibiYa Nabiyya Allah

Sholawat untukmu Assalamualaika Ya Rasullah

(sound: Maher Zain- Assalamu alayka)
 

Selasa, 08 Desember 2015

Kisah yang sangat menyentuh hati..

Tetap dalam Kesabaran dan keteguhan iman selama menghadapi masa sulit dan cobaan berat adalah ciri-ciri dari para Saaliheen. Dan sangat jelas, Allah memberi ganjaran berlimpah kepada orang yang takut dan taat kepada-Nya, tetap berTaqwa meski dalam keadaan yang paling sulit sekalipun.
Allah berfirman,
ومن يتق الله يجعل له مخرجا (٢)
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.
ويرزقه من حيث لا يحتسب ۚ ومن يتوكل على الله فهو حسبه ۚ إن الله بالغ أمره ۚ قد جعل الله لكل شيء قدرا (٣)
3. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. [Qur’an 65:2-3]
Sebuah Contoh ketabahan dan Taqwa tersebut diriwayatkan oleh Imam Abu Ja'far Muhammad bin Jarir al-Tabari, ditulis dalam Sifatus Safwah. Al Imam menceritakan:
Pada tahun 240 Hijriah aku berada di Makkah, di mana aku mendengar seseorang dari Khurasan mengumumkan, "Duhai para peziarah, siapa pun yang menemukan kantong berisi seribu dinar milikku yang hilang, sangat diharapkan untuk mengembalikan kepadaku, Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan pula!".
Seorang pria tua penduduk Makkah mendekatinya dan berkata, "Wahai Khurasani, penduduk kota ini mengalami masa-masa sulit dan waktu untuk haji sudah dekat. Mungkin kantong uangmu ada di tangan seorang pria beriman yang akan sudi mengembalikan kepada mu jika Anda memberinya hadiah sebagian dari itu, yang kemudian akan Halal (diijinkan) untuk dia.
Orang Khurasani itu bertanya, "Berapa banyak yang dia inginkan?"
Orang tua itu menjawab, "satu sepersepuluh dari isi kantong itu - (seratus dinar)".
Dan orang Khurasani berkata, "Ini aku tidak bisa lakukan (tidak setuju). Tapi, aku akan menyerahkan urusan ini kepada Allah SWT".
Mereka kemudian berpisah.
Imam al-Tabari mengatakan, "Aku berpikir bahwa orang tua itu sendiri yang telah menemukan kantong uang itu, karena ia tampak sangat miskin. Aku mengikutinya hingga ia memasuki rumah reyot yang sangat tua dan berseru, "Ya Lubabah!"
Dari dalam, seorang wanita menjawab, "Aku di sini, Abu Ghiyaath."
Ia berkata kepada wanita itu, "aku menemukan pemilik kantong dinar yang membuat pengumuman tadi, tetapi ia tidak bermaksud untuk menghargai orang yang telah menemukannya (tidak memberi persen). Aku menyarankan kepadanya bahwa ia harus memberikan sepersepuluh dari isi kantong bagi yang telah menemukannya, tapi ia menolak. Apa yang harus kita lakukan karena kantong itu harus segera kita kembalikan?".
Istrinya menjawab, "Kami telah hidup dalam kemiskinan bersamamu selama lima puluh tahun terakhir. engkau memiliki tanggungan empat anak perempuan, dua saudara perempuan, ibu ku dan aku. belikan kami makanan dan pakaian dengan uang itu!!! Mungkin pada suatu hari kelak Allah akan membuat Anda kaya dan Anda kemudian dapat mengembalikan uang itu, atau Allah akan melunasi utang tersebut atas nama Anda".
Tetapi orang tua itu menolak, dan mengatakan, "Aku tidak akan menghancurkan napas terakhir ku setelah bersabar selama delapan puluh enam tahun!"..
Imam al-Tabari terus bercerita, "Percakapan itu berakhir dan aku menyelinap pergi. Keesokan harinya aku kembali mendengar orang Khurasani itu berteriak memanggil dalam kerumunan orang, "Wahai peziarah yang datang dari jauh dan dekat! Siapa pun yang menemukan sebuah tas yang berisi seribu dinar milikku harus berbaik hati mengembalikan kepadaku. Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan!".
Sekali lagi, orang tua itu mendekatinya dan berkata, "Aku sudah menyarankan Anda kemarin. Kota kami dalam masa paceklik (kekeringan) dan penduduknya banyak yang miskin. aku mengatakan kepada Anda untuk membagi hadiah seratus dinar bagi orang jujur yang bersedia mengembalikan kantongmu, tetapi Anda menolak. Putuskan hadiah sepuluh dinar. Mungkin uang itu akan dikembalikan kepada Anda dan pahala sepuluh dinar akan menjaga kehormatan penemunya juga".
Orang Khurasani itu kembali berkata, "Ini aku tidak bisa lakukan. Tapi, aku akan menyerahkan urusan itu kepada Allah SWT".
Lalu mereka berpisah lagi.
Imam al-Tabari mengatakan, "Kali ini aku tidak mengikuti orang tua itu ataupun orang Khurasani, tapi aku melanjutkan menulis..
Hari berikutnya orang Khurasani itu lagi lagi membuat pengumuman. Dan sekali lagi Orang tua itu datang kepadanya dan berkata, "pertama kali aku menyarankan Anda untuk memberikan seratus dinar sebagai hadiah dan kemudian sepuluh dinar. Sekarang, aku menghimbau Anda untuk memberikan satu dinar sebagai hadiah. Dengan setengah dinar, penemunya dapat membeli kantong air yang ia dapat digunakan untuk memberikan air kepada orang-orang Makkah dan dengan demikian membantu ia mencari nafkah dan dengan setengah dinar tersisa, ia dapat membeli seekor domba yang akan memberikan susu untuk keluarganya".
Sekali lagi orang Khurasani itu menolak, "Ini aku tidak bisa lakukan. Tapi, aku akan menyerahkan urusan itu kepada Allah SWT".
Orang tua itu kemudian menarik tangan orang Khurasani, dan mengatakan, "Ikuti aku dan ambil kembali kantong uang anda sehingga aku bisa tidur nyenyak di malam hari dan aku bisa terbebas dari beban ini."
Orang tua membawa pergi orang Khurasani itu, dan aku mengikuti mereka ke rumah orang tua itu. Ia masuk dan setelah beberapa saat, meminta Khurasani untuk masuk juga.
Ia menggali lubang kecil di tanah dan mengeluarkan kantong berwarna hitam yang diikat kuat dengan tali.
Ia bertanya pada orang Khurasani, "Apakah ini milik Anda? '
Orang Khurasan melihatnya dan berkata, "Ya. Ini kantongku", lalu ia membuka ikatan tali dan menuangkan dinar ke pangkuannya. Dia kemudian menyentuhkan jari-jarinya diatas uang itu beberapa kali dan mengatakan, "Ini adalah dinar kami".
Ia menempatkan kembali semua dinar kedalam kantong, mengikatnya dan bangkit untuk pergi. Saat ia sampai di pintu, dia berbalik dan berkata kepada orang tua itu, "Ayah ku telah meninggal - semoga Allah menyayanginya - dan meninggalkan tiga ribu dinar. Beliau memerintahkan aku untuk memberikan sepertiga dari harta itu untuk orang yang paling layak yang bisa aku temukan. Ia juga menyarankan aku untuk menjual kendaraannya dan menggunakan dananya untuk biaya haji ku. Aku melakukan apa yang ayah ku telah katakan. Aku menempatkan sepertiga kekayaannya, yang seribu dinar, di tas ini. Sejak aku meninggalkan Khurasan, aku belum bertemu siapa pun yang lebih layak daripada Anda. Ambillah semua dinar ini dan semoga Allah memberikan Anda Barakah (berkat) di dalamnya". dan secepatnya Dia kemudian pergi, meninggalkan kantong dinar itu kepada si orang tua.
Imam al-Tabari mengatakan, "Aku berbalik untuk pergi tapi orang tua itu memanggil dan membawaku kembali. Ia menyuruh aku duduk dan berkata, "Aku melihat Anda mengikuti ku dari hari pertama, dan Anda sangat memahami apa yang telah terjadi di antara kami sampai sekarang. Aku telah mendengar hadits di mana Sayyidina Abdullah bin Umar mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ mengatakan kepada Sayyidina Umar dan Sayyidina Ali, "Jika Allah memberi Anda hadiah tanpa Anda meminta ataupun meminta untuk itu maka kemudian terimalah dan jangan menolaknya, karena kalau menolak, seolah-olah Anda melemparkan kembali pemberian itu kepada Allah".(Mujamul Awsat, Tabarani) Ini adalah hadiah dari Allah untuk semua orang yang hadir di sini".
Orang tua itu kemudian memanggil istrinya Lubabah, 4 putrinya, 2 saudarinya, istri dan ibunya. kami semua sepuluh orang duduk, ia membuka kantong itu dan mengatakan, "Hamparkan kain lap di atas Anda". Aku melakukannya. Para wanita tidak memiliki pakaian berlebihan melakukan hal yang sama dan mereka membuka tangan mereka keluar sebagai gantinya. Dia kemudian mulai membagi-bagikan satu dinar untuk setiap orang. Ini berlanjut sampai tas itu kosong.
Imam al-Tabari mengatakan, "Hatiku lebih dipenuhi dengan rasa sukacita bagi mereka setelah menerima seratus dinar daripada diriku sendiri".
Ketika aku akan pergi orang tua itu berkata kepada ku, "Anak muda, kamu akan berbahagia. Aku tidak pernah melihat uang tersebut dalam hidup ku, juga tidak pernah bermimpi atau berharap untuk melihat itu. KeTahuilah bahwa itu adalah Halal dan menjaganya. Aku selalu melakukan shalatul Fajr dengan baju yang tua ini dan kemudian pulang dan membukanya, sehingga kaum perempuan bisa memakainya, satu per satu dan melakukan shalat Fajr mereka. Aku kemudian akan pergi untuk mendapatkan sesuatu (mencari nafkah) antara Zuhr dan Ashar. Saat malam, aku akan kembali dengan apa yang Allah berikan. terkadang Ini akan mencakup beberapa butir kurma, keju, potongan roti dan beberapa sayuran yang dibuang orang. Aku kemudian akan membuka lagi baju ini dan kami akan bergiliran untuk melakukan sholat Maghrib dan Isya dgn baju yang sama. Semoga Allah memberkati para wanita itu, aku dan Anda dengan apa yang telah kita terima. Semoga Allah merahmati orang yang telah meninggal itu, yang memiliki kekayaan ini. Semoga Allah juga memberikan penghargaan kepada orang yang membawa ini kepada kami (khurasani)".
Imam al-Tabari rahimahullah menutup ceritanya, "aku pamitan kepada orang tua dan pergi, Selama ber tahun tahun, aku menggunakan dinar bagianku untuk membeli kertas, bepergian dan membayar sewa selama aku belajar. Dan Setelah enam belas tahun, aku kembali ke Makkah dan bertanya tentang orang tua itu. Aku diberitahu bahwa ia telah meninggal. Putrinya menikah dengan bangsawan dan pangeran. Saudara-saudara perempuannya, istri dan ibunya juga telah meninggal. Aku mengunjungi para suami dan anak-anak perempuannya, Mereka menghormatiku dan memperlakukan aku dengan baik".
اللّهمّ صلِّ على سيّدنا محمّدٍ وآله
 وصحْبه وسلِّم

source : http://ekamauluddin.blogspot.co.id/2015/09/kisah-yang-sangat-menyentuh-hati.html
Design by Abdul Munir Visit Original Post Islamic2 Template