Tetap dalam Kesabaran dan keteguhan iman selama menghadapi masa sulit
dan cobaan berat adalah ciri-ciri dari para Saaliheen. Dan sangat jelas,
Allah memberi ganjaran berlimpah kepada orang yang takut dan taat
kepada-Nya, tetap berTaqwa meski dalam keadaan yang paling sulit
sekalipun.
Allah berfirman,
ومن يتق الله يجعل له مخرجا (٢)
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.
ويرزقه من حيث لا يحتسب ۚ ومن يتوكل على الله فهو حسبه ۚ إن الله بالغ أمره ۚ قد جعل الله لكل شيء قدرا (٣)
3. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan
barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan
(keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang
(dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi
tiap-tiap sesuatu. [Qur’an 65:2-3]
Sebuah Contoh ketabahan dan Taqwa tersebut diriwayatkan oleh Imam Abu
Ja'far Muhammad bin Jarir al-Tabari, ditulis dalam Sifatus Safwah. Al
Imam menceritakan:
Pada tahun 240 Hijriah aku berada di Makkah, di mana aku mendengar
seseorang dari Khurasan mengumumkan, "Duhai para peziarah, siapa pun
yang menemukan kantong berisi seribu dinar milikku yang hilang, sangat
diharapkan untuk mengembalikan kepadaku, Semoga Allah membalas Anda
dengan kebaikan pula!".
Seorang pria tua penduduk Makkah mendekatinya dan berkata, "Wahai
Khurasani, penduduk kota ini mengalami masa-masa sulit dan waktu untuk
haji sudah dekat. Mungkin kantong uangmu ada di tangan seorang pria
beriman yang akan sudi mengembalikan kepada mu jika Anda memberinya
hadiah sebagian dari itu, yang kemudian akan Halal (diijinkan) untuk
dia.
Orang Khurasani itu bertanya, "Berapa banyak yang dia inginkan?"
Orang tua itu menjawab, "satu sepersepuluh dari isi kantong itu - (seratus dinar)".
Dan orang Khurasani berkata, "Ini aku tidak bisa lakukan (tidak setuju).
Tapi, aku akan menyerahkan urusan ini kepada Allah SWT".
Mereka kemudian berpisah.
Imam al-Tabari mengatakan, "Aku berpikir bahwa orang tua itu sendiri
yang telah menemukan kantong uang itu, karena ia tampak sangat miskin.
Aku mengikutinya hingga ia memasuki rumah reyot yang sangat tua dan
berseru, "Ya Lubabah!"
Dari dalam, seorang wanita menjawab, "Aku di sini, Abu Ghiyaath."
Ia berkata kepada wanita itu, "aku menemukan pemilik kantong dinar yang
membuat pengumuman tadi, tetapi ia tidak bermaksud untuk menghargai
orang yang telah menemukannya (tidak memberi persen). Aku menyarankan
kepadanya bahwa ia harus memberikan sepersepuluh dari isi kantong bagi
yang telah menemukannya, tapi ia menolak. Apa yang harus kita lakukan
karena kantong itu harus segera kita kembalikan?".
Istrinya menjawab, "Kami telah hidup dalam kemiskinan bersamamu selama
lima puluh tahun terakhir. engkau memiliki tanggungan empat anak
perempuan, dua saudara perempuan, ibu ku dan aku. belikan kami makanan
dan pakaian dengan uang itu!!! Mungkin pada suatu hari kelak Allah akan
membuat Anda kaya dan Anda kemudian dapat mengembalikan uang itu, atau
Allah akan melunasi utang tersebut atas nama Anda".
Tetapi orang tua itu menolak, dan mengatakan, "Aku tidak akan
menghancurkan napas terakhir ku setelah bersabar selama delapan puluh
enam tahun!"..
Imam al-Tabari terus bercerita, "Percakapan itu berakhir dan aku
menyelinap pergi. Keesokan harinya aku kembali mendengar orang Khurasani
itu berteriak memanggil dalam kerumunan orang, "Wahai peziarah yang
datang dari jauh dan dekat! Siapa pun yang menemukan sebuah tas yang
berisi seribu dinar milikku harus berbaik hati mengembalikan kepadaku.
Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan!".
Sekali lagi, orang tua itu mendekatinya dan berkata, "Aku sudah
menyarankan Anda kemarin. Kota kami dalam masa paceklik (kekeringan) dan
penduduknya banyak yang miskin. aku mengatakan kepada Anda untuk
membagi hadiah seratus dinar bagi orang jujur yang bersedia
mengembalikan kantongmu, tetapi Anda menolak. Putuskan hadiah sepuluh
dinar. Mungkin uang itu akan dikembalikan kepada Anda dan pahala sepuluh
dinar akan menjaga kehormatan penemunya juga".
Orang Khurasani itu kembali berkata, "Ini aku tidak bisa lakukan. Tapi, aku akan menyerahkan urusan itu kepada Allah SWT".
Lalu mereka berpisah lagi.
Imam al-Tabari mengatakan, "Kali ini aku tidak mengikuti orang tua itu ataupun orang Khurasani, tapi aku melanjutkan menulis..
Hari berikutnya orang Khurasani itu lagi lagi membuat pengumuman. Dan
sekali lagi Orang tua itu datang kepadanya dan berkata, "pertama kali
aku menyarankan Anda untuk memberikan seratus dinar sebagai hadiah dan
kemudian sepuluh dinar. Sekarang, aku menghimbau Anda untuk memberikan
satu dinar sebagai hadiah. Dengan setengah dinar, penemunya dapat
membeli kantong air yang ia dapat digunakan untuk memberikan air kepada
orang-orang Makkah dan dengan demikian membantu ia mencari nafkah dan
dengan setengah dinar tersisa, ia dapat membeli seekor domba yang akan
memberikan susu untuk keluarganya".
Sekali lagi orang Khurasani itu menolak, "Ini aku tidak bisa lakukan. Tapi, aku akan menyerahkan urusan itu kepada Allah SWT".
Orang tua itu kemudian menarik tangan orang Khurasani, dan mengatakan,
"Ikuti aku dan ambil kembali kantong uang anda sehingga aku bisa tidur
nyenyak di malam hari dan aku bisa terbebas dari beban ini."
Orang tua membawa pergi orang Khurasani itu, dan aku mengikuti mereka ke
rumah orang tua itu. Ia masuk dan setelah beberapa saat, meminta
Khurasani untuk masuk juga.
Ia menggali lubang kecil di tanah dan mengeluarkan kantong berwarna hitam yang diikat kuat dengan tali.
Ia bertanya pada orang Khurasani, "Apakah ini milik Anda? '
Orang Khurasan melihatnya dan berkata, "Ya. Ini kantongku", lalu ia
membuka ikatan tali dan menuangkan dinar ke pangkuannya. Dia kemudian
menyentuhkan jari-jarinya diatas uang itu beberapa kali dan mengatakan,
"Ini adalah dinar kami".
Ia menempatkan kembali semua dinar kedalam kantong, mengikatnya dan
bangkit untuk pergi. Saat ia sampai di pintu, dia berbalik dan berkata
kepada orang tua itu, "Ayah ku telah meninggal - semoga Allah
menyayanginya - dan meninggalkan tiga ribu dinar. Beliau memerintahkan
aku untuk memberikan sepertiga dari harta itu untuk orang yang paling
layak yang bisa aku temukan. Ia juga menyarankan aku untuk menjual
kendaraannya dan menggunakan dananya untuk biaya haji ku. Aku melakukan
apa yang ayah ku telah katakan. Aku menempatkan sepertiga kekayaannya,
yang seribu dinar, di tas ini. Sejak aku meninggalkan Khurasan, aku
belum bertemu siapa pun yang lebih layak daripada Anda. Ambillah semua
dinar ini dan semoga Allah memberikan Anda Barakah (berkat) di
dalamnya". dan secepatnya Dia kemudian pergi, meninggalkan kantong dinar
itu kepada si orang tua.
Imam al-Tabari mengatakan, "Aku berbalik untuk pergi tapi orang tua itu
memanggil dan membawaku kembali. Ia menyuruh aku duduk dan berkata, "Aku
melihat Anda mengikuti ku dari hari pertama, dan Anda sangat memahami
apa yang telah terjadi di antara kami sampai sekarang. Aku telah
mendengar hadits di mana Sayyidina Abdullah bin Umar mengatakan bahwa
Rasulullah ﷺ mengatakan kepada Sayyidina Umar dan Sayyidina Ali, "Jika
Allah memberi Anda hadiah tanpa Anda meminta ataupun meminta untuk itu
maka kemudian terimalah dan jangan menolaknya, karena kalau menolak,
seolah-olah Anda melemparkan kembali pemberian itu kepada
Allah".(Mujamul Awsat, Tabarani) Ini adalah hadiah dari Allah untuk
semua orang yang hadir di sini".
Orang tua itu kemudian memanggil istrinya Lubabah, 4 putrinya, 2
saudarinya, istri dan ibunya. kami semua sepuluh orang duduk, ia membuka
kantong itu dan mengatakan, "Hamparkan kain lap di atas Anda". Aku
melakukannya. Para wanita tidak memiliki pakaian berlebihan melakukan
hal yang sama dan mereka membuka tangan mereka keluar sebagai gantinya.
Dia kemudian mulai membagi-bagikan satu dinar untuk setiap orang. Ini
berlanjut sampai tas itu kosong.
Imam al-Tabari mengatakan, "Hatiku lebih dipenuhi dengan rasa sukacita
bagi mereka setelah menerima seratus dinar daripada diriku sendiri".
Ketika aku akan pergi orang tua itu berkata kepada ku, "Anak muda, kamu
akan berbahagia. Aku tidak pernah melihat uang tersebut dalam hidup ku,
juga tidak pernah bermimpi atau berharap untuk melihat itu. KeTahuilah
bahwa itu adalah Halal dan menjaganya. Aku selalu melakukan shalatul
Fajr dengan baju yang tua ini dan kemudian pulang dan membukanya,
sehingga kaum perempuan bisa memakainya, satu per satu dan melakukan
shalat Fajr mereka. Aku kemudian akan pergi untuk mendapatkan sesuatu
(mencari nafkah) antara Zuhr dan Ashar. Saat malam, aku akan kembali
dengan apa yang Allah berikan. terkadang Ini akan mencakup beberapa
butir kurma, keju, potongan roti dan beberapa sayuran yang dibuang
orang. Aku kemudian akan membuka lagi baju ini dan kami akan bergiliran
untuk melakukan sholat Maghrib dan Isya dgn baju yang sama. Semoga Allah
memberkati para wanita itu, aku dan Anda dengan apa yang telah kita
terima. Semoga Allah merahmati orang yang telah meninggal itu, yang
memiliki kekayaan ini. Semoga Allah juga memberikan penghargaan kepada
orang yang membawa ini kepada kami (khurasani)".
Imam al-Tabari rahimahullah menutup ceritanya, "aku pamitan kepada orang
tua dan pergi, Selama ber tahun tahun, aku menggunakan dinar bagianku
untuk membeli kertas, bepergian dan membayar sewa selama aku belajar.
Dan Setelah enam belas tahun, aku kembali ke Makkah dan bertanya tentang
orang tua itu. Aku diberitahu bahwa ia telah meninggal. Putrinya
menikah dengan bangsawan dan pangeran. Saudara-saudara perempuannya,
istri dan ibunya juga telah meninggal. Aku mengunjungi para suami dan
anak-anak perempuannya, Mereka menghormatiku dan memperlakukan aku
dengan baik".
اللّهمّ صلِّ على سيّدنا محمّدٍ وآله
وصحْبه وسلِّم
source : http://ekamauluddin.blogspot.co.id/2015/09/kisah-yang-sangat-menyentuh-hati.html


0 komentar:
Posting Komentar